Jakarta, Potretlensa.com - Wakil Koordinator Bidang Eksternal Komisi untuk Orang Hilang dan Korban Tindak Kekerasan (KontraS) Andrie Yunus disiram air keras oleh orang tidak dikenal. Andrie mendapat serangan tersebut di Jalan Talang, Jakarta Pusat, pada malam hari Kamis, 12 Maret 2026 sekitar pukul 23:37 WIB.
KontraS mendesak polisi mengusut tuntas kasus teror penyiraman air keras terhadap Wakil Koordinatornya tersebut. Polisi harus segera mengungkap pelakunya.
Koordinator KontraS Dimas Bagus Arya mengatakan tindakan penyiraman air keras ini merupakan upaya untuk membungkam suara-suara kritis masyarakat khususnya pembela hak asasi manusia (HAM), apabila merujuk pada Undang-Undang Nomor 39 Tahun 1999 tentang HAM, Pasal 66 Undang-Undang Nomor 32 Tahun 2009 tentang Perlindungan dan Pengelolaan Lingkungan Hidup, dan Peraturan Komisi Nasional HAM Republik Indonesia Nomor 5 Tahun 2015 tentang Prosedur Perlindungan Terhadap Pembela HAM.
"Peristiwa ini harus segera mendapat perhatian luas dari berbagai pihak, termasuk lembaga penegak hukum dan masyarakat sipil. Aparat kepolisian langsung melakukan penyelidikan untuk mengungkap pelaku serta motif di balik serangan tersebut," kata Dimas, Jumat (13/3/2026).
Hal itu, lanjut Dimas, mengingat upaya penyiraman air keras terhadap korban dapat mengakibatkan luka fatal yang serius hingga meninggal dunia.
Diketahui, Andrie Yunus mendapat teror penyiraman air keras hingga mengakibatkan luka serius di sekujur tubuh terutama pada area tangan kanan dan kiri, muka, dada, serta bagian mata.
Peristiwa tersebut terjadi, Kamis (12/3/2026) malam. Saat itu, Andrie Yunus baru saja melakukan perekaman siniar (podcast) di Kantor Yayasan Lembaga Bantuan Hukum (YLBHI) bertajuk “Remiliterisme dan Judicial Review di Indonesia” yang rampung pada sekitar pukul 23.00 WIB.
Setelah terkena siraman air keras, Andrie Yunus segera dibawa ke rumah sakit untuk mendapatkan penanganan secara medis. Dari hasil pemeriksaan, Andrie mengalami luka bakar sebanyak 24%.
Diketahui, Andrie saat ini dikenal sebagai aktivis yang kritis menentang segala tindak kekerasan dan pembungkaman demokrasi, terutama yang dilakukan aparat keamanan.
Dia juga pernah memprotes keras pembahasan RUU TNI secara tertutup oleh DPR di sebuah hotel mewah di Jakarta dengan berupaya masuk ke ruang rapat hingga bikin heboh. Akibatnya, dia mendapat sejumlah teror atas aksi beraninya.
*BS

